Keputusan Yang Membuat Saya Bersyukur

September 26th, 2010  Tagged

Terbit tenggelam t’lah kita rasakan
Gelap dan terang atas kehendak-Nya
Kita manusia tak ada yang sempurna
Kita manusia hanyalah ciptaan-Nya

Bersyukur - Alexandria

Waktu saya masih kecil, saya pernah mau diadopsi oleh orang Jepang, bernama Furyama-san.  Entah kenapa dia memilih saya untuk diadopsi sebagai anak, namun saat itu saya senang sekali karena saya bermimpi ingin hidup di Jepang.  Saat itu saya membayangkan saya akan bertemu langsung dengan GABAN, tokoh superhero favorit saya.

Belum lagi mimpi memakai kimono, seperti yang saya lihat dalam serial Ikkyu-San.  Dan lebih serunya lagi, saya akan menjadi anak satu-satunya tanpa harus berbagi dengan ketiga saudara laki-laki saya yang mengesalkan.  Saya juga akan banyak mainan yang saya inginkan, karena orang tua saya jarang sekali membelikan saya mainan.  Waaahhh pokoknya bayangan yang indah-indah itu sudah ada di depan mata.

Namun apa mau dikata, orang tua saya menolak permintaan Furyama-san walaupun sudah diiming-imingi uang yang lumayan besar pada saat itu.Orang tua saya terlalu berat melepaskan saya, anak perempuan mereka satu-satunya, toh mereka bukan orang yang tidak mampu membesarkan saya walaupun memang tidak mewah-mewah sekali.

Penolakan orang tua tersebut, diam-diam membuat saya kecewa karena telah menghancurkan mimpi-mimpi yang seakan sudah hampir menjadi kenyataan.

Beberapa tahun kemudian, saya mulai memasuki masa remaja.  Kebetulan saya tinggal di sebuah kompleks dimana gosip, aib hingga “beda” dari yang lain bisa membuat saya menjadi bulan-bulanan warga sekitar.  Apalagi saya juga bersekolah yang berlokasi di dalam kompleks tersebut, sehingga bisa dikatakan teman-teman sekolah saya juga tetangga saya.

Keluarga saya bisa digolongkan sebagai keluarga yang “beda” dengan keluarga yang lain.  Mama saya selalu berdandan, berpakaian gaya dan suka berdansa disaat Ibu-Ibu lain memakai baju panjang, longgar dan tidak memakai make up.  Bapak saya bertuga memasak di rumah disaat Bapak-Bapak yang lain hanya duduk di meja makan ketika makanan sudah terhidang lengkap. Belum lagi Bapak saya tidak mendukung Irak dan mendukung Amerika dan Kuwait saat Perang Teluk ketika hampir sebagian besar warga kompleks mendukung Irak.

Belum lagi kedua orang tua saya santai sekali dengan pendidikan agama, sehingga saya harus mempunyai dua kehidupan, yang pertama memegang paham sekuler ketika di rumah dan yang kedua agar bisa diterima teman-teman dan lingkungan sekolah saya harus sedikit fanatik terhadap agama.

Belum lagi kedua orang tua saya hobi sekali berdebat.  Apa saja didebatkan sampai saya malas mendengar dan saking seringnya saya sudah tidak peduli lagi.  Namun dalam hati saya, saya selalu berharap mudah-mudahan orang tua teman-teman saya tidak mengetahui betapa “aneh”nya keluarga saya.  Saya tidak ingin jadi bulan-bulanan teman-teman dan orang tua mereka.

Sampai pada suatu titik dimana salah seorang teman sekelas mengejek Mama karena Mama hobi berdansa dan pulang malam.  Saya langsung down hingga tak bisa membalas kata-katanya.

Hari itu juga dengan penuh kemarahan saya katakan semua yang dikatakan teman-teman saya kepada Mama.  Walaupun saya bisa melihat keterkejutan dan kekecewaan di mata Mama karena protes keras saya, namun saya tidak peduli.  Saya hanya ingin bisa “aman” di lingkungan sekolah saya yang begitu “konservatif”.

Disaat yang bersamaan, saya jadi ingin menjadi anak Furyama-san dan tinggal di Jepang.  Sehingga saya tidak perlu menjadi bagian dari keluarga “aneh” ini.  Dan saya tidak akan pernah menjadi bulan-bulanan teman-teman sekolah saya, karena saya yakin orang-orang Jepang lebih menerima saya.

Tak lama kemudian, saya bertemu kembali dengan Furyama-san pada saat saya SMA.  Dalam suatu kesempatan dia menanyakan tentang kegiatan saya sehari-hari.  Saya ceritakan semua kegiatan saya dari Sekolah, pulang, tidur siang, kursus atau les, belajar, nonton TV dan tidur pada pukul 22.00 - 23.00.  Dia kaget,menurut dia hidup saya terlalu santai untuk anak SMA, apalagi saya sempat tidur siang dan malamnya tidur selama 8 jam lebih.

Akhirnya dia bercerita tentang pengalaman SMA-nya.  Setiap hari dia hanya tidur 2 - 3 jam, karena harus belajar, belajar dan belajar.  Tidak ada waktu untuk nonton TV dan bersenang-senang apalagi tidur siang seperti yang saya lakukan.  Kegiatan ini dilakukan oleh hampir setiap siswa Jepang, karena ketatnya persaingan kaum muda di Jepang di PTN-PTN bergengsi, sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang menjamin masa depan.

Entah kenapa cerita itu membuat saya mulai berpikir dan mencari tahu kehidupan remaja di Jepang.  Ternyata sama sekali tidak indah seperti yang saya bayangkan.  Di Jepang kehidupan lebih konservatif, ini bisa dilihat kesamaan tas sekolah yang digunakan oleh anak-anak SD yang menggunakan model yang sama entah sejak tahun kapan.

Selain budaya terlalu “gila” belajar, juga ada budaya ijime atau budaya menindas teman yang dianggap lemah atau beda hanya untuk bersenang-senang dan melepaskan stress akibat tekanan akademis dan keluarga.  Korbannya sampai ada yang masuk rumah sakit jiwa dan yang paling parah bunuh diri.  Kalau saya melihat diri saya secara fisik waaahh saya target empuk menjadi korban ijime.

Belum lagi keluarga di Jepang yang ikut memberikan tekanan kepada anak-anak mereka karena sejak kecil anak Jepang sudah harus bersaing untuk masuk TK yang terbaik sehingga memenuhi syarat untuk meneruskan SD, SMP, SMA dan PTN terbaik.  Jadi tak jarang orang tua memaksa anak-anak mereka untuk belajar, belajar dan belajar.  Sebauh rutinitas yang pasti akan saya benci karena saya bukan tipe orang yang kuat terus menerus belajar.

Saya mulai berpikir mulai menyukai keputusan yang dibuat oleh orang tua saya bertahun-tahun yang lalu, agar saya tidak diadopsi oleh Furyama-san.

Setelah saya lulus SMA, saya kuliah di Yogyakarta.  Disana saya bertemu dengan berbagai macam jenis orang.  Ini memperluas wawasan saya.  Namun yang paling membuat saya lebih lepas adalah ketika salah seorang sahabat saya berverita tentang keluarganya yang sedang dalam masa-masa sulit karena Ayahnya ingin menikah lagi sedangkan Ibunya tidak setuju.  Saya jadi ingat kedua orang tua saya walaupun bertahun-tahun berdebat tapi paling tidak satu sama lain masih saling mencintai dan menyanyangi.

Lalu ada juga teman bercerita bagaimana saudara-saudara kandung mereka malah menyusahkan orang tua dan teman saya karena ditangkap oleh Polisi.  Saya menjadi berpikir betapa beruntungnya saya mempunyai tiga saudara laki-laki yang “rese” namun tak pernah membuat orang tua ataupun saya harus bolak-balik ke kantor Polisi karena perbuatan kriminal.

Dan saya juga amat bersyukur ketika saya melihat kedua orang tua saya masih sehat dan segar diusia mereka yang sudah lebih dari 55 tahun, tanpa harus memikirkan diabetes, sakit jantung atau bahkan stroke karena mereka mempunyai kegiatan olah raga yang rutin mereka lakukan yaitu berdansa untuk Mama dan memasak untuk Bapak.  Padahal banyak orang tua teman-teman saya sudah bolak-balik ke rumah sakit bahkan sudah tiada akibat penyakit diabetes, jantung dan stroke.

Selain itu saya menjadi orang yang “santai” ketika menghadapi perbedaan baik beda pendapat, prinsip, gaya hidup maupun agama.  Ternyata diam-diam orang tua saya membekali sebuah kebijaksanaan yang dalam menghadapi perbedaan.  Bagi mereka perbedaan adalah hal yang memberi warna dalam kehidupan, dan apa yang mereka katakan memang benar.  Ini yang kemudian membuat saya mempunyai banyak teman tanpa harus kehilangan jati diri.

Saat ini saya merasa menjadi orang yang bahagia dan “sempurna”.  Saya syukuri itu karena ternyata hidup saya tidak sejelek yang pikirkan ketika saya remaja.  Saya bersyukur bahwa orang tua saya memutuskan untuk tetap menjadikan saya anak mereka walaupun mungkin saya berkali-kali mengecewakan mereka.  Dan tentunya keputusan itulah yang membuat saya seperti sekarang penuh dengan berkah dan bahagia.

Bersyukurlah hanya pada-Nya
Semua memuji keagungan-Nya
Bersyukurlah atas nikmat-Nya
Ungkapkan rasa cinta pada-Nya

PESTA BUKU JAKARTA 2010

Juli 6th, 2010  Tagged , ,

Akhirnya event yang aku tunggu sejak sebulan yang lalu terjadi juga. Yaitu PESTA BUKU JAKARTA 2010. Ini merupakan event tahunan yang harus aku datangi,gak pernah absen lho. Aku sudah datang ke event ini sejak 2007 dan merupakan pesta buku beneran bagi aku.

Jadi ketika ada spanduk di perempatan Trakindo Cilandak tentang event ini, aku langsung mencatat di agenda handphone. Tentu saja aku juga gak sabar menanti datangnya gaji biar bisa puas-puasin beli buku tanpa kuatir dengan budget tengah bulan….hehehehehe….

Sebenarnya event ini dibuka tanggal 2 Juli 2010, cuma karena jatuh pada hari Jumat, aku gak bisa datang, bisa sih bolos atau ngumpet-ngumpet pergi kesana namun aku ngerasa nanti gak bebas untuk memilih buku jadi yah aku bersabar nunggu sampai hari Sabtu.

Karena niatku udah kuat untuk ”buang uang” di Pesta Buku, walaupun Sabtu pas hujan deras plus macet, aku tetap nekat. Akhirnya dalam waktu satu jam lebih aku nyampe juga ke Senayan.

Pas aku datang Senayan juga lagi macet total. Ternyata pas aku perhatikan selain ada Pesta Buku, ada juga Festival Bango, Festival Bobo dan Circus. Yah pantes lhhaaa apalagi hari Sabtu ditambah liburan sekolah.

Walaupun gak seseru 3 tahun yang lalu, tapi tetap wort it lah perjalanan panjang aku ke Pesta Buku kali ini.

Kali ini aku beli buku gak terlalu banyak lhaaa….Cuma 23 buku aja….hehehehehe…..malah aku menganggap masih kurang karena masih banyak incaran buku yang aku pengenini….thanks God kartu ATMku hilang jadi mau nggak mau aku tau diri lah buat ngabisin uangku disinim kalo gak gimana aku pulang….hehehehehehe..

Dari pengalaman aku selama beberapa tahun datang ke Pesta Buku, aku selalu mengicar stand 3 penerbit besar dulu karena mereka biasanya suka memberikan diskon gila-gilaan. Mereka adalah Gramedia, Mizan dan my favourite Serambi. Tahun ini sih Gramedia gak terlalu besar buka stand jadi diskonnya juga gak gede-gede banget. Mizan standnya gerilya alias kecil-kecil namun ada di setiap sudut strategis jadi kalo seumpamanya penuh di depan pintu utama (fyi, kalo masuk dari pintu Utama Istora, maka Mizan berada disudut sebelah kanan) maka aku sarankan cari aja di lapangannya karena disana Mizan membuka stand di keempat sudut lapangan.

Sedangkan Serambi, terletak di ruang Kenangan atau Cempaka (maaf lupa mencatat nama ruangannya). Dan seperti yang saya perkirakan Mizan dan Serambi memberikan diskon yang bikin kita kalap untuk belanja buku, sedangkan Gramedia diskonnya baru berkisar antara 10 sampai 50 persen, tapi entah kenapa kok saya kurang tertarik yah.

Serambi malah berani memberikan diskon gila-gilaan buat buku baru khususnya buku-buku misteri, thriller dan detektif.

Ok, mari saya perlihatkan belanjaan saya.

Buku serial detektif yang aku dapatkan dari Stand Serambi
Buku serial detektif yang aku dapatkan dari Stand Serambi

Ini belanjaanku dari stand Serambi. Sayangnya aku menemukan standnya nyempil dan setelah uangku habis….hiks….hiks….jadi saya hanya beli 5 buku. Kebetulan aku suka sama cerita-cerita detektif jadi cocoklah sama Serambi.

Aku beli karya Sue Grafton, B is For Burglar dan C Is For Corpse. Ini untuk melengkapi buku A is For Alibi yang baru saja aku beli dari BUKABUKU.COM

Terus aku juga beli ketiga buku serial serial DEXTER. Kesemua buku harganya @ rp. 20rb jadi semua Rp. 100 rb. Lumayan buaaaannnggggeeeettttt…..Oia, jangan segan minta bantuan penjaga standnya, baik-baik malah bantuin aku untuk nyariin buku, Cuma yah gitu rayuan maut biar beli bukunya gak nahanin….hahahahaha….

Buku-buku yang aku dapatkan dari stand Mizan
Buku-buku yang aku dapatkan dari stand Mizan

Kalo buku-buku ini aku beli di Stand Mizan. Sudah rebutan sama orang lain dan tempatnya kecil, eh pas keliling ternyata mizan buka beberapa stand malah lebih sepi dan rapi….jadi agak-agak nyesel deh….hehehehe…

Btw, Mizan lumayan ngasih diskonnya. Dari kelima buku tersebut cuma buku Travelling ke India yang gak diskon (atau diskon tapi 20 persen doang deh…aduh maaf aku lupa). Tapi gak apa deh karena udah lama mau beli, karena penulisnya adalah temanku waktu SMA di Bontang.

Kalo yang lainnya ada buku tentang Benyamin. S, Terus yang judulnya Untukmu Segalanya tentang penykit autis, terus Samudera Horme novel Lebanon dan Morality for Beautiful Girls. Semuanya @ Rp. 15rb.

Oia, disini juga penjaga standnya ok banget. Ketika aku ngantri mau bayar di kasir, mereka cepat mengusulkan untuk ke kasir yang lain, jadi aku gak ngantri deh.

buku-buku yang aku di beli Stand lainnya
buku-buku yang aku di beli Stand lainnya

Sedangkan Gramedia, aku malah gak dapat apa-apa abis harganya juga sama dengan toko Gramedia biasa….yah jadi ngapain gitu lho beli di sana.

Tapi aku sempat ke standnya Gagas media buat beli bukunya Bara Pattiradjawane, terus ke Erlangga Eureka untuk beli God Explain in A Taxi Ride (sebenarnya sih kebetulan lewat pas mau ke standnya Gramedia), buku ini untuk melengkapi buku Paul Adner yang sudah aku punya sebelumnya. Terus aku juga beli buku Batavia dan Pramoedya Ananta Toer (maaf gak sempet kefoto karena langsung diambil Bapakku yang fans beratnya Pak Pram), terus buku tentang Sejarah film Indonesia (sekali lagi aku lupa nama standnya), terus majalah Glamour dan buku bahasa Inggris Walk Away Pounds (biar aku semangat ngurusin badan….hehehehe) dan babybug, buku anak-anak yang juga dalam bahasa Inggris. Kedua buku terakhir aku beli di stand yang berada di tenda. Wajib ke sana karena buku Bahasa inggrisnya murah-murah (menurut isi kantong gue lhhoooo dan kalo dibandingkan dengan toko buku Aksara….hehehehehe).

Selain buku, aku juga sekali beli pernak-pernik…nah silakan lihat hasil buruanku dibawah ini.

Tempelan magnet untuk kulkas yang lucu-lucu
Tempelan magnet untuk kulkas yang lucu-lucu

Ini adalah magnet untuk kulkas buatan PUREZENTO, Bandung. Karena rame dikerubungi cewek-cewek jadinya aku gak puas milihnya. Fyi, barangnya lucu-lucu banget dan harganya murah banget, sebuah kombinasi yang bagus sekali untuk menarik pembeli cewek.

Gantungan kunci yang lucu banget.
Gantungan kunci yang lucu banget.

Nah ini gantuangan kuncinya. Lucu banget yah…

Ternyata selain yang membuat yang kejepang-jepangan, mereka juga membuat pernak-pernik berdasarkan baju daerah. Yang aku beli adalah pembatas buku dengan baju daerah Kalimantan Barat. Sebenarnya aku pengen beli yang kalimantan Timur tapi katanya gak ada. Ya sudahlah yang ada Kalimantan Barat yah udah beli aja.

Aku juga beli boneka jari. Tadinya mau dijadiin pembatas buku, eeehhh begitu bapakku lihat katanya mau dikasihin ma kedua ponakanku yang tinggal di Samarinda….yyyeeeeaahhh udah aja diikhlaskan saja….hehehehe….kebetulan ponakanku yang perempuan suka banget sama binatang, malah punya ayam peliharaan padahal umurnya masih setahun dan juga berteman dengan anjing tetangga.

Nah ini dia boneka jarinya….lucu yah. Belinya di stand buku Kristen di deket pintu masuk lapangan. Harganya @rp. 6rb jadi dua buah Rp. 12rb.

Ok begitulah sekilas tentang hasil buruanku di PESTA BUKU JAKARTA 2010. Mungkin Sabtu depan aku akan kesana lagi karena biasanya kalo udah mau selesai, Serambi bias ngasih diskon gila-gilaan lagi….ssssooooo wajib ain deh datang lagi. Kalau udah gini jadi gak sabar nunggu PESTA BUKU JAKARTA 2011.

“Menyelesaikan tulisan ini sambil nonton film Shahrukh Khan dan Andy Lau di TV….aaaahhhh pria tampan….menyenangkan sekali untuk menemani menulis….hehehehe…”

Apa Yang Ada di Rak Buku Saya

Juli 1st, 2010  Tagged , , , ,
Rak buku ku yang berantakan

Rak buku ku yang berantakan

Yup, memang postingan ini agak-agak iseng sih karena kurang kerjaan abis nunggu editing (yeah saya kerja di stasiun televisi….hehehehe) aku inget pernah iseng motoin rak bukuku yang berantakan.

Sebenarnya ini hanya sepertiga buku yang ada di rumahku.  Karena masih ada buku saya kumpulin pada saat kuliah yang masih disimpen di kardus-ksrdus, terus punya adekku yang ada di kamarnya dan satu lagi rak buat buku-bukuku juga….hehehehehe….

Ok, rak bukuku pada tingkat 1 yang kiri berisi buku-buku tentang cerita-cerita detektif dan buku-buku penulis Asia.  Sedangkan yang sebelah kanannya berisi Chicklit, Teenlit, fiksi dan buku-buku Bahasa Inggris.

Tingkat 2 berisi buku-buku tentang pengembangan diri, pengembangan kreatifitas, melamar kerja, chicken Soup dan juga tentang relationship.  Ada juga buku-buku tentang fenimisme (tapi gak banyak).  Terus yang kanan adalah buku-buku fiksi.

Tingkat 3 sebelah kiri berisi komik, beberapa buku tentang diet dan beberapa buku yang saya gak ngerti….hahahahahaha…sebelah kanan ada buku tentang anjing dan kucing, dan beberapa buku yang belum sempat saya baca, salah satunya “Love Eat and Pray”.

Tingkat 4 yang sebelah kiri berisi buku-buku teknik milik kedua adik saya (yang satu teknik mesin dan yang satunya lagi teknik elektro), sedangkan sebelah kanan isinya majalah-majalah lama milik saya.

Di rak buku saya ada 3 buah frame foto yang belum saya isi gambarnya.  Nanti kalo sudah ada update baru dan sudah saya rapiin lagi rak buku saya akan saya posting lagi deh, termasuk juga foto apa yang sudah saya masukan ke dalam frame foto saya.

Koleksi buku yang paling up date

Koleksi buku yang paling up date

Ok, mari kita melihat koleksi buku-buku terbaru saya dari dekat.  Sebelah kiri rak atas saya punya koleksi buku-buku detektif antara lain Monk, Agatha Christie, Nora Roberts.  Terus saya juga punya buku dari Pearl S. Buck (Peony dan Mandala), Clara Ng dan Amy Tan.  Selain itu beberapa buku dari penulis lainnya kayak Botchan dan 47 Ronin.  Oia, pada memperhatikan ada benda biru disudut yang ditempeli barcode, itu adalah cover kaset yang digunakan kantor saya….(jadi inget harus dikembalikan ke kantor lagi….hehehehehe)

Sebelah kanan rak atas saya, saya punya koleksi Chicklit, Teenlit, novel-novel populer karya penulis Indonesia dan beberapa buku dari Dewi Lestari (ini koleksi adik saya, kalau saya gak begitu suka sama karyanya), terus ada beberapa buku Bahasa Inggris (yang biasanya saya beli di secondhand bookshop di Blok M) untuk belajar Bahasa Inggris.  Sekarang saya lagi berusaha baca Uncle’s Tom Cabin.  Buku saya beli di Pejaten Village seharga 30 ribu aja….hehehehehehe…. Oia, ada kamus juga disitu biar kalo kesulitan bisa langsung buka kamus.

Lalu tingkat 2 dari kanan ada buku-buku pengembanga diri yang kebanyakan ditutup oleh buku-buku catatan saya (maaf yah lain kali akan saya singkirkan dulu buku-buku itu), ada Chicken Soup Of Soul, The Secret, terus buku tentang Starbuck, Feminisme, Girl Of Riyadh, buku-buku tentang relationship kayak He’s Not into You sampe Embroider.

Sebelah kanan, ada buku-buku tentang Kejawen (ini punya Bapak saya), lalu ada buku tentang tips-tips jadi penulis, buku-buku tentang film, Oprah Winfrey, Joy Fielding dan Mystic River (buku ini saya beli cuma 15 ribu di pameran buku Jakarta 2 tahun yang lalu dan bagi saya kayak nemu harta karun atau baju trend terbaru dengan harga murah….hehehehehe….).

Oia, saya gak begitu tertarik baca Twilight, Harry Potter dan lain-lainnya karena bagis fiksi fantasi enaknya ditonton bukan dibaca atau dijadikan komik sekalian.  Tapi ini bisa berubah kok mungkin suatu hari hati saya terketuk untuk membaca Twilight….hehehehehe…

Buku favoriku saat ini, "Negeri 5 Menara" oleh A. Fuadi...sampai mabuk membacanya saking sukanya.

Buku favoriku saat ini, "Negeri 5 Menara" oleh A. Fuadi…sampai mabuk membacanya saking sukanya.

Nah buku favorit saya sekarang adalah “Negeri 5 Menara” yang ditulis oleh A. Fuadi.  Gara-gara buku ini saya sampe dikunciin pintu sama Bapak saya.  Ceritanya begini, saya beli buku ini hari Minggu minggu lalu karena kebetulan saya dapat tugas editing sore sampe malam, jadi pas istirahat saya main ke Gramedia Blok M.  Terus karena penasaran saya beli deh buku ini.

Sampe di kantor saya langsung baca buku ini.  Begitu baca saya gak bisa berhenti sampe saya sudah gak memperhatikan lagi editor bekerja.  Nah pas waktunya pulang, saya yang masih membaca buku ini akhirnya duduk di lobby kantor sambil membaca, gak terasa saya sampe 2,5 jam saya membaca buku ini.  Sampe teman-teman saya ada yang sampe bolak-balik di Lobby bingung ngelihat saya belum beranjak dari kursi sampai selama itu.  Pas lihat jam tangan yah ampun udah jam 2 dini hari.  Akhirnya saya pulang ke rumah naik taksi.

Sampe di rumah sekitar pukul 3 dini hari, saya ketok-ketok pintu rumah sampe saya panggil Bapak saya gak ngebukain pintu (fyi, karena sudah berumur Bapak saya juga punya masalah dengan pendengaran….hahahahahaha).  Akhirnya saya memutuskan untuk ke warnet deket rumah.  Sampe di warnet pun saya gak main internet (tapi tetap saya pasang billingnya), saya melanjutkan membaca buku ini sampai pagi.  Pulang ke rumah pun saya gak langsung tidur tapi saya melanjutkan baca buku ini sampe selesai….hehehehehehehe….

Yah, begitulah “Love Affair” saya sama buku.  Sampai sekarang kacamata saya sudah minus 3,5 gara-gara membaca namun saya gak pernah kapok tuh baca buku.  Bagi saya worth it aja ngabisin banyak uang untuk buku, apalagi kalao menemukan buku-buku seperti Negeri 5 Menara atau Laskar pelangi (btw, tetraloginya saya punya lengkap cuma ditaruhnya di rak buku yang lain).  Setuju gak???

Saya, Ariel, Luna Maya, Ibu-Ibu di Glodok dan sebuah kata hati terdalam

Juni 18th, 2010

Yup, seperti sebagian besar bangsa Indonesia saat ini saya juga punya video Ariel dan Luna Maya atau yang lebih tepatnya video-mirip-Ariel-dan-Luna Maya begitu juga part keduanya yang “dibintangi” oleh bintang mirip Cut Tary.

Dan seperti sebagian besar masyarakat saat ini, saya juga terjebak dengan pro dan kontra apakah Ariel dan Luna Maya salah atau hanya menjadi korban dari seseorang yang ingin menjatuhkan mereka.

Kebetulan saya bekerja di sebuah stasiun televisi swasta nasional dan tentu saja di tempat saya bekerja masalah itu menjadi tema untuk beberapa program di tempat saya bekerja.  Dibahas mulai dari sosok Ariel sampai ada dugaan kelainan seksual Ariel, hingga sampai Roy Suryo yang ikut-ikutan dalam konflik ini (gak jelas maksudnya apa….hehehehehehehe….).

Namun hal yang paling mengejutkan adalah ketika liputan seorang teman di Glodok yang ingin mengetahui seberapa besar pengaruh video tersebut terhadap masyarakat Indonesia dilihat dari sudut penjualan DVD-nya.  Ketika itu teman saya mewawancarai seorang Ibu yang sedang membeli DVD dan kebetulan banget kedapetan membeli DVD Ariel dan Luna Maya…dan kebetulan sekali kok Ibu-Ibunya memakai jilbab (maaf yah).

Pertama taman saya bertanya tentang pendapat dia tentang video tersebut, dengan tegasnya Ibu-ibu tersebut menjelaskan tentang keprihatinannya dan norma agama sekaligus bangsa ini (standart tanggapan masyarakat Indonesia kalau ada kasus beginian) terus ketika ditanya lho kok Ibu beli juga jawabannya “Yah, saya penasaran juga pengen tahu gimana”….asli saya langsung ngakak….yaaaahhhh ternyata………..untung setelah itu diedit abis-abisan wawancara tersebut…..hehehehehehehe….

Pulang ke rumah, saya juga tidak dapat menyembunyikan rasa pensaran saya dengan video tersebut.  Saya buka juga di laptop saya namuan entah kenapa belum sampai satu menit saya menonton, saya teringat dengan Ibu-Ibu tersebut.  Dan tiba-tiba saja saya merasa sebagai manusia munafik sedunia.  Diam-diam saya “menikmati” penderitaan Ariel, Luna Maya, Cut Tary dan seluruh orang tua, guru-guru, pendidik, tokoh agama, pemuka agama dan juga anak-anak dibawah umur yang menyaksikan adegan syur dalam video tersebut.

Saya menutup video tersebut dengan perasaan mual.  Bukan jijik dengan adegan ayur tersebut tapi saya jijik dengan diri saya sendiri, saya jijik dengan sikap saya yang ternyata sama saja dengan ibu-Ibu di Glodok yang barusan saya ketawain di ruang editing.  Atas nama ingin tahu dan penasaran saya menghalalkan diri saya untuk menonton video tersebut.  Memang saya bukan orang alim dan video begituan mah saya juga sudah menonton tapi ini beda mungkin karena saya benci dengan kemunafikan yang meliputi kasus ini dan saya benci menjadi orang munafik.

 Memang masyarakat ini hanya bisa menyaksikan, menghujat dan menjatuh, namun tak pernah menginstropeksi diri mereka sendiri bahwa berpura-pura “alim” dengan menghujat dan menjatuhkan Ariel, Luna Maya dan Cut Tary di depan anak-anak dan diam-diam ikut menyaksikan video tersebut sama saja bohong, sama saja dengan menyebarkan video tersebut.  Kalau memang anda semua prihatin (dan memang benar-benar prihatin) dengan nasib anak-anak bangsa ini, tidak menyaksikan adalah jawabannya walau dengan alasan apapun. 

Deadline Hidupku (Kesan mendalam dalam film Julie & Julia)

Mei 30th, 2010

Hari ini saya baru saja nonton film Julie & Julia yang dibintangi oleh Marryl Streep dan Amy Adams.  Sebenarnya sudah lama film ini ada dalam koleksi saya (maklum saya maniak film…:D) tapi karena pekerjaan maka saya jarang punya kesempatan untuk menonton.  Nah kebetulan saya punya banyak waktu plus saya memang lagi butuh hiburan maka saya akhirnya memutuskan film ini.

Saya begitu tersentuh dengan Julie Powell diumurnya yang ke 30 dan ketika teman-temannya sudah mencapai puncak karir mereka, dia masih dalam posisi stagnan dan tinggal di daerah Queens.  Saya merasa hidup saya bercermin pada hidup Julie Powell karena saya merasakan apa yang dia rasakan.  Hidup yang gak punya prestasi ataupun tujuan yang ingin dikejar dan dicapai, sekaligus juga tidak punya impian apapun.  Sedangkan teman-teman saya sudah sukses, menikah dan tinggal menikmati hidup aja.

Hanya saja akhirnya Julie Powell menetapkan deadline dalam hidupnya untuk mencapai apa yang ingin dia raih, karena Julie seperti juga saya tidak pernah menyelesaikan suatu “pekerjaan”, kami punya punya tujuan, target yang ingin kami capai namun rasanya langkah kami terlalu berat untuk meraihnya sehingga pekerjaan kami selalu berhenti di tengah jalan.  Julie memilih untuk menulis blog tentang pengalamannya mengaplikasikan resep Julia Child seorang chef terkenal di Amerika, selama setahun dan menggunakan 524 resep.

Walaupun akhirnya berat dan penuh tantangan karena ternyata Julia Child sendiri tidak menyukai blognya, Julie mempunyai banyak pembaca setia blognya dan juga dukungan dari temna-teman.  Namun bagi saya yang terpenting dalam kisah ini adalah Julie Powell menyelesaikan misi pribadinya, walaupun sebelumnya semua orang menyangsikan kemampuannya.

Selama ini saya selalu merasa hidup saya sudah stagnan, sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.  Di umur 30-an, belum menikah dan karir yang kayak bakal berjalan ditempat, saya ingin mempunyai harapan dan impian lagi.  Tapi perasaan bahwa umur saya 30-an membuat saya seperti mundur sebelum maju berperang (mungkin mindset saya sudah terlalu kuat untuk itu).

Hingga hari ini ditengah saya menonton film ini, saya melihat perjuangan Julie Powell dan Julia Child untuk menemukan sekaligus mengejar mimpi mereka ketika umur mereka tidak lagi muda, karena mereka tahu selama mereka terus mengejarnya maka pintu harapan akan terbuka.  Yup saya harus punya deadline dalam hidup saya.  Apalagi saya beruntung saya sudah menemukan passion saya tinggal saya menemukan deadline saya, akan lebih baik lagi jika saya tidak memikirkan apapun (maksudnya tidak memikirkan apapun yang orang pikirkan tentang mimpi saya sehingga saya tidak terpengaruh) namun lebih baik saya memikirkan apa yang harus saya lakukan agar apa yang cita-citakan tercapai.

Dan Dulmatin pun Batal Jadi Pahlawan

Maret 13th, 2010

ntah saya yang jarang nonton TV atau memang benar apa yang saya analisa selama beberapa hari ini.  Saya perhatikan semua stasiun TV agak mengurangi frekwensi pemberitaan mereka tentang kematian Dulmatin.  Malah berkesan tidak ngoyo untuk menyiarkan perkembangan penguburan Dulmatin setiap jam seperti ketika kematian Amrozi Cs dan kawan-kawan, juga tidak sesering ketika kematian Nordin M. Top.

Apakah ini berarti pihak media sudah mendapatkan “pelajaran”-nya ketika meliput hukuman mati Amrozi dan kawan-kawan??  Dimana terjadi banyak kontroversi antara Amrozi dan kawan-kawan sebagai teroris atau menjadi Pahlawan.

Saya perhatikan, walaupun sedikit liputan stasiun TV menampilkan pendapat korban-korban bom yang dikedakan teroris.  Ketika itu saya jadi ingat kutipan yang saya dapatkan dari serial Criminal’s Mind, “Kita (maksudnya polisi dan media), seringkali membuat seorang pembunuh menjadi orang yang terkenal, dan mereka akan dikenang sepanjang masa namun ini tidak adil bagi para korbannya, karena mereka akan hanya jadi korban dan dan bagian dari data kita.”

Kutipan itu memang terbukti ketika Amrozi dan kawan-kawan dihukum mati dan dikuburkan secara baik-baik (at least badan mereka utuh, sedangkan korban ledakan bom tubuhnya kemana-mana) dengan penuh hikmat plus dihadiri ribuan orang yang mengelu-ngelukan mereka ditambah lagi diliput media.  Akhirnya malah membuat opini publik berbalik menjadi Amrozi dan kawan-kawan sebagai pahlawan, apalagi saat itu masyarakat butuh pahlawan, butuh sesuatu untuk melampiaskan kemarahan entah kepada Pemerintah, Amerika, Israel dan lain-lainnya.

Sekarang cukup berbeda.  Ketika pemakaman Dulmatin dilarang diliput oleh Ormas-Ormas yang mengatasnamakan Islam yang menyebut diri mereka anti Amerika (yang tetap lho pengikutnya pakai celana jeans….hehehehehehehe) dan teriak-teriak marah-marah tidak jelas sambil nunjuk-nunjuk entah apa yang ditunjuk, pihak media sepertinya “pasrah” menerimanya.  Soooo sepertinya seorang Dulmatin pun batal jadi pahlawan nasional, ia hanya jadi pahlawan di daerah asalnya.

Saya dedikasikan tulisan ini untuk semua korban bom baik secara langsung maupun tidak langsung dimanapun kalian berada.  Kalian bukan data, kalian adalah manusia, bagian dari kehidupan seseorang yang patut dikenang dan dibela suaranya.

Mengundang Trinity ke Empat Mata

Maret 9th, 2010

Gara-gara saya baca buku Naked Traveller 2, pas bagian terakhir Trinity menulis tentang menjadi tamu di Empat Mata (walaupun yang cuma sedikit sekali). Tapi tetap saya jadi bangga karena waktu itu saya lah ditunjuk untuk mencari keberadaan Trinity untuk jadi bintang tamu yang bertema jalan-jalan. (sebenarnya sih pengennya melempar ide terus langsung kabur…..hahahahahahaha..

..).

Nah, susahnya Trinity waktu itu pengennya gak mau ketahuan kalau dia lah penulis Naked Traveller bahkan Trinity hanyalah pen name. Jadilah saya riset di depan internet ber jam-jam, gilanya blog-nya Trinity aja saya gak ketemu….(sayanya yang bego atau emang sayanya yg gak tau).

Hari kedua pencarian saya akan Trinity, saya pun mengirim e-mail ke alamat e-mail yang tercantum di buku Naked Traveller. Sebelum menulis saya sempet-sepmetin berdoa semoga Trinity berkenan membaca dan membalas e-mail saya, karena saya sadar kok inbox e-mail dia pasti penuh dengan kiriman e-mail orang-orang yang menyukai Naked Traveller. Seingat saya, saya tulis di subject gede-gede “MENGUNDANG KE EMPAT MATA” dan dalam e-mail tersebut lengkap saya kasih alamat kantor, extesion, kedua nomor HP saya sampe kedua alamat e-mail saya saking saya ingin dia menjadi bintang tamu di Empat Mata.

Sialnya gak lama kemudian internet di kantor sempat down dan saya sudah gak sempat mengecek account saya lagi karena pekerjaan. Akhirnya saya lupa. Kira-kira seminggu kemudian, saya iseng mengecek account saya dan tanpa saya sangka Trinity membalas e-mail saya….bbbboooo The Trinity membalas e-mail saya. Saya langsung melonjak kegirangan saking gak nyangka dia akan membalas dan amat sangat bersedia hadir ke Empat Mata terus langsung menuju rekan creative saya Valent untuk memberitahukan berita tersebut.

Langsung sama Valent saya disuruh menelpon dia. Dengan berdebar-debar (karena dia penulis idola saya…booo idola saya) saya menelpon dia dan ternyata dia amat sangat ramah. Dia juga senang akhirnya saya membalas e-mail yang dikirimkan karena sebelumnya dia sudah mencoba berbagai cara untuk menelpon saya namun tidak bisa nyambung (waaaahhh CUG berulah lagi nih). Dia bersedia untuk menjadi bintang tamu di Empat Mata karena akhirnya dia memutuskan untuk go public sebagai panulis secara resmi….dan harap dicatat ini lah pertama kalinya Trinity memperlihatkan dirinya.

Saya sampe gak sabar menunggu waktunya shooting karena saya ingin sekali bertemu dengan Trinity. Dan ketika waktunya shooting terus terang saya gelisah, dan ini tentu saja terbaca oleh boss saya waktu itu Mbak Ozzy, namun dia pengertian banget malah seingat saya dia ngingetin saya untuk bawa buku Naked Traveller untuk minta tanda tangan plus kamera digital saya untuk fotoan. Terus terang selama shooting saya udah konsentrasi, sampe di HT dan beltpack saya pesenin ke temen-temen creative dan FD kalau sudah selesai shooting, Trinity ditahan dulu demi saya biar saya bisa minta tanda tangan dan fotoan.

Akhirnya begitu shooting selesai, saya udah gak inget ngumpulin HT yang menjadi tugas saya. Saya langsung lari ke set Empat Mata membawa buku Naked Traveller dan kamera digital pinjeman dari Nura, teman kantior saya.(jadi inget foto itu kemanayah?? apa masih di kameranya Nura???) Di set saya melihat teman saya Dewi membawa setumpuk buku Naked Traveller titipan teman-teman kantor untuk ditandatanganin oleh Trinity. Mungkin ada kali 15 buku. Setelah selesai saya langsung maju minta tanda tangan dan fotoan. Saat itulah teman saya Valent datang dan langsung menceritakan bagaimana usaha saya agar bisa menghadirkan Trinity di Empat Mata kepada dia. Dia sampe tertawa lho. Saya juga sempat ngobrol dan “usaha” minta kaos Naked Traveller yang di pake. Sayangnya Trinity menolak alasannya kaos itu baru aja dibikin di sebuah Mall untuk dia pake di Empat Mata untuk mempublikasikan bukunya. Jadi yah kalo dia kasih kaos itu. dia gak punya baju untuk pulang.

Suprise-nya lagi ternyata secara fisik memang dia jauh dari yang saya bayangkan karena saya selalu membayangkan dia memiliki tubuh ala Angelina Jolie. Sosok dia ternyata seperti saya. tinggi besar dan tomboy banget. Namun menurut saya, wajahnya manis. Dan tentu saja di memakai kaos, celana jins biru agak belel, sepatu keds, topi dan ransel persis seperti yang selalu dia gambarkan di bukunya.

Aaaahhhh itu kenangan lebih dari 2 tahun yang lalu dan amat berkesan bagi saya. Dan tambah berkesan lagi ketika dia menuliskannya di buku Naked Traveller….:D…itulah enaknya di Empat Mata bisa bertemu dengan narsum-narsum yang unik….:D

Ibu Saya Bukan Ibu Yang Sempurna

Maret 9th, 2010

Saya panggil beliau Mama.  Mama saya memang bukan orang yang terkenal, Mama saya orang biasa.  Dan Mama saya bukan Ibu yang sempurna, namun dalam ketidaksempurnaannya saya belajar menerima bahwa “Ibu juga manusia”.

Mama juga bukan Ibu yang bisa memasakan keluarganya yang enak-enak seperti ibu-ibu yang lain, tapi dari situ saya belajar untuk tidak menjadikan makanan sebagai sumber kebahagiaan saya.

Seringkali Mama tidak punya waktu untuk keempat anaknya karena harus bekerja dengan sistem shift maklum Mama saya bekerja sebagai perawat.  Kebiasaan inilah yang membuat kami khususnya saya menadiri sebagai seorang anak.  Ketika anak TK lain menangis ketika ditinggalkan Ibunya di sekolah, saya ditinggal Mama saya dan langsung duduk di kelas dengan tenang.  Saya juga jadi banyak belajar bahwa apa yang selama ini Mama saya lakukan semua untuk keempat anak-anaknya agar bisa mempunyai banyak kesempatan dalam meraih cita-cita.

Mama saya suka memaksakan agar kami kursus ini kursus itu yang membuat kami banyak kehilangan waktu bermain.  Namun apa yang Ibu saya paksakan akhirnya membuka kesempatan pada kami dalam banyak hal.  Dengan kursus organ walaupun saya gak pernah bisa lulus dari Step 1, tapi paling gak saya bisa lebih peka terhadap musik.  Kursus diving membuat saya menjadi mencintai diri saya sendiri dan keindahan alam.  Mungkin pada saat itu ingin mengajarkan pada saya “Jangan hanya menunggu kesempatan namun ciptakanlah kesempatan dengan belajar sebanyak-banyaknya.”  Karena beliau sendiri tak segan belajar apapun sampai sekarang, bayangkan Mama saya baru belajar komputer ketika berumur 40 tahun lebih lalu belajar biola ketika umur sudah 45 tahun, belajar Bahasa Perancis ketika burumur 50 tahun (sampai sekarang Mama saya bisa bahasa Inggris, sedikit Jepang, dan Perancis, belum lagi Bahasa daerah seperti Bugis, Makassar, sedikit Jawa dan Toraja).

Mama saya suka marah.  Mama saya kalau marah lumayan “sadis”, namun dari situ saya menjadi kuat dan siap menghadapi dunia yang tidak selamanya indah.  Dan kemarahan beliau selalu ada benarnya (aaaaahhhhhh….akhirnya saya mengakuinya…….hehehehe).

Penampilan Mama saya selalu berbeda dari Ibu-Ibu yang lain.  Dari saya masih kecil sampai sekarang Mama saya selalu memperhatikan penampilannya.  Mama saya tidak pernah lupa untuk merapikan rambutnya yang pendek, memakai kuteks (at least kuku-kuku panjangnya terpotong rapi), mengecat rambut, memakai aksesoris perak yang “beda” namun cantik dan mengenakan busana yang sesuai namun selalu menjadi pusat perhatian Ibu-Ibu yang lain (walaupun belum tentu harganya mahal).  Dulu waktu saya kecil, hal ini menjadi bahan ejekan teman-teman saya, ada yang bilang Mama saya dandanannya terlalu tebal atau apalah yang membuat saya sakit hati malah ada yang curiga kalau Mama saya kerjanya dandan terus, sampai adik saya pernah bilang Mama kalau dandan gak usah heboh lah.  Tetapi sekarang sedikit banyak saya juga berdandan seperti beliau.  Bagi kami berempat mempunyai Mama cantik merupakan sebuah kebanggaan.  Toh, saya yakin sebenarnya teman-teman saya cemburu dengan saya karena saya mempunyai Mama yang punya waktu untuk menghargai dirinya sendiri dengan merawat dan mempercantik dirinya.

Mama saya jarang sekali memenuhi keinginan saya, itu yang membuat saya selalu marah dan kesal dengan beliau.  Saya tidak pernah punya celana jeans model terbaru atau baju yang sedang trend.  Tas sekolah saya selama bertahun-tahun tidak pernah ganti. Namun dari situ saya belajar menahan diri melatih diri saya menghadapi kenyataan bahwa gak semua keinginan, mimpi dan cita-cita bisa terpenuhi jika saat itu terjadi saya sudah siap menghadapinya.  Selalu menjadi kreatif dalam menghadapi keadaan. Walaupun begitu ada satu hal yang Mama saya selalu penuhi yaitu biaya kursus (apapun itu untuk belajar) dan membeli mesin tik untuk memenuhi hobi saya menulis….:D

Mama saya bukan Ibu yang penyabar apalagi pasrah dalam menerima keadaaan.  Mama saya selalu berontak dan melawan keadaaan.  Itu yang membuat Mama keras pada kami.  Namun itu yang membuat kami ini jadi terpacu untuk selalu memenuhi ketidaksabaran beliau.  Kami berempat (saya punya 3 saudara laki-laki) malu rasanya jika hanya sabar dan pasrah pada keadaan.  Malu rasanya jika tidak membuat perjuangan sampai titik darah penghabisan seperti perjuangan Mama saya dari beliau masih anak-anak sampai sekarang.

Mama saya selalu memaksa saya berbasa-basi (istilah sekarang perezzzzzz) sama orang lain dan jangan bicara jika tidak menyenangkan orang lain.  Jika saya salah bicara maka setelah itu saya akan dimarahi habis-habisan.  Dulu waktu masih suka dipaksa Mama menemani beliau ke acara-acara formal, saya malas duluan dan hanya diam karena saya takut salah biacara.  Namun setelah bekerja (saya bekerja sebagai PA di sebuah TV swasta), saya sadar seringkali kemampun perezzzz itu yang menyelamatkan kita.  Kemarin saja saya harus perezzz dengan The Dance Company dan crew-crewnya ketika mereka latihan, ketika ketemu dengan managernya Vidi Aldiano saya juga perezzz karena mereka harus datang jam 12 siang sedangkan latihannya baru jam 14.00.  Kalau gak saya perezzz sama managernya mana mungkin managernya mau datang pada jam segitu.  Begitu juga ketika saya berbicara dengan teman-teman sekerja saya, saya berusaha tidak bicara jika itu hanya untuk mengkritik mereka apalagi jika tidak diminta.  Saya hanya akan memuji apa yang mereka punya dan itu dengan tulus lho (orang kalau muji gak tulus selalu kelihatan).

Yah memang Mama saya bukan Ibu yang sempurna dan mungkin tidak akan menjadi yang sempurna.  Tetapi dari ketidaksempurnaannya saya banyak belajar.  Mama saya memang tidak umum, saya masih ingat ketika anak perempuan lain ketika kelas 5 SD sudah anteng-anteng di rumah, saya malah diijinkan main sepeda dan layangan siang-siang ternyata Mama beruasaha melindungi saya dari pubertas dini sehingga gizi dari makanan saya menjadi energi dan tidak memantangkan alat-alat reproduksi saya.  Saya juga baru tahu kegiatan bermain (secara fisik jadi gak termasuk main PS, internet dan main barbie) ketika usia-usia sekolah dasar membuat tulang-tulang anak kuat, postur tubuh tegap dan menghindari bengkoknya tulang punggung.  Ternyata Mama saya sudah berpikir jauh ke depan dari apa yang saya perkirakan dengan tidak membelikan kami komputer, Nitendo (jaman itu yang ngetrend Nitendo) dan barbie.

Mom, walaupun Mama jauuuuuhhhhh di Kalimantan Timur dan aku anakmu satu ini tidak akan pernah mengakuinya secara langsung tapi mudah-mudahan Mama tau kalau kami anak-anakmu selalu dan akan selalu sayang sama Mama dan mengakui apa yang Mama katakan dari dulu hingga sekarang memang benar…..(waaaaaaaahhhhhh jadi pengen nangis deh……).  Happy Mother’s Day Mom…I love youuuuuu……

Antara saya, film, televisi dan pelajaran sejarah

Maret 7th, 2010

Mungkin kalau DNA saya bisa bercerita tentang saya, maka salah satu yang akan dia ceritakan adalah dalam DNA saya ada gen-gen penyuka film dan televisi yang diturunkan oleh Bapak saya. Jadi sejak saya masih belum ngerti apa-apa ingetan pertama saya yang sampai sekarang saya inget banget adalah film Six Million Dollar Man yang diputar TVRI tahun 1980-81 ketika saya masih berumur 2 tahunan lebih. Waktu itu TV di rumah saya masih hitam putih dan menggunakan Aki sebagai sumber listriknya.

Kalau fillm pertama saya, saya kurang ingat tapi dalam ingatan samar-sama saya, saya sudah nonton film Ben Hur waktu TK atau SD kelas 1, adegan yang paling saya ingat adalah balapan kereta kuda. Sambil nonton film itu Bapak saya cerita (tentu saja saya nonton dengan Bapak saya) kalo adegan tersebut monumental banget, karena selain memang keren banget juga banyak memakan korban jiwa stuntman-nya.

Jadi bisa ditebak kesukaan saya nonton film secara tidak langsung didukung sekali oleh Bapak saya. Sejak saya kelas 1 SD, setiap akhir pekan ditayangkan film-film Indonesia di TVRI. Saya hampir tidak pernah ketinggalan. Walalupun film-filmnya sebenarnya tidak sesuat dengan umur saya tapi orang tua saya tidak pernah melarang. Ada untungnya juga sih karena ternyata hobi saya itu berguna dalam pekerjaan saya yang sekarang.

Dari nonton film dan TV juga lah saya yang gak suka belajar (saya belajar dalam arti yang sebenarnya hanya pada saat-saat tertentu) selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran sejarah. Sebenarnya saya gak pernah belajar serius setiap ujian sejarah. Hanya saja sering kali saya sudah menonton filmnya sebelum saya mendapatkan pelajaranya. Contohnya ketika membahas penyerangan Pearl Harbour wakatu SMA, jauh sebelumnya waktu saya SD saya sudah nonton film Tora, Tora, Tora. Jadi ketika guru sejarah saya menjelaskan tentang penyerangan itu, di kepala saya seperti ada layar tancap yang menayangkan film Tora, Tora, Tora. Sehingga pas ujian tinggal saya ceritain aja film Tora, Tora, Tora, jadi tanpa baca buku pelajaranpun saya sudah mengerti inti dari penyerangan Pearl Harbour….hehehehehehe…(untung pada saat itu ujian selalu Essay).

Ketika pelajaran tentang sejarah Jepang, saya tinggal main “layar tancap” di kepala saya tentang film-film Samurai, Serial Lion Maru dan anime Ikkyu-san. Ketika bicara tentang sejarah wilayah kekuasaan Jepang di Asia Tenggara, saya tinggal memilih film Bridge Of River Kwai, tentang POW dari Inggris yang ditawan Jepang di Myanmar. Atau ketika saya belajar tentang perang saudara Amerika saya tinggal memilih film Huckleberry Finn. Saya juga suka mempelajari sejarah negeri-negeri Arab gara-gara nonton film Lawrence Of Arabia (yang dengan bodohnya diputar di TV-TV Indonesia ketika hari-hari besar Islam padahal sebenarnya film itu awal mula barat khususnya Inggris bisa dengan mudah campur tangan urusan nengara-negara timur tengah…hehehehehehehe).

Saya juga belajar Revolusi Rusia dari film DR. Zhivago yang saya tonton ketika saya masih SD. Mengerti ajaran Mahatma Ghandi gara-gara saya nonton film Ghandi-nya Ben Kingsley ketika SMP. Saya belajar perang Vietnam, John F Kennedy dan Flower Generation sampai Martin Luther King dan Malcom X dari serial Tour Of Duty waktu saya SMP, jauh sebelum kesadaran akan pentingnya peristiwa tersebut pada dunia dan nilai-nilai sejarah saya…hehehehehehe….

Untungnya di kepala saya punya banyak koleksi film-film yang saya butuhkan. Walaupun saya lupa judulnya namun banyak adegan film-film tersebut tertanam di kepala saya. Contohnya waktu belajar tentang sejarah Korea, saya selalu ingat film yang dibintangi Marlon Brando tentang prajurit Amerika yang ditugaskan di Korea ketika perang Korea tahun 50-an, yang ketika dia liburan ke Jepang, dia jatuh cinta dengan seorang Geisha. Saya juga selalu ingat adegan sebuah film lama yang saya lupa judulnya tentang pertarungan gladiator di Colleseum, ketika saya mempelajari sejarah Romawi.

Jadi dalam sejarahnya saya belajar sejarah di SMA, nilai sejarah 7 ketika pelajaran sejarah Indonesia sedangkan sejarah dunia selau diatas 7. Mau tau kenapa nilai sejarah Indonesia saya hanya mentok di 7, bukan karena saya gak menghormati sejarah sendiri apalagi menyepelakan tapi pada saat itu saya belum pernah nonton film sejarah Indonesia yang membuat saya terhanyut….kecuali film Cut Nyak Dien, saya ikutan nangis pas ngelihat Cut Nyak Dien ditangkap….tapi sayangnya Cut Nyak Dien jarang banget keluar dalam sejarah SMA.

Dari semua pelajaran sejarah, sebenarnya paling mudah saya pelajari adalah sejarah Jepang. Karena big fan of Oshin, tinggal saya ingat-ingat saja bagian-bagian film itu sesuai dengan momen sejarahnya, maka secara otomatis semua tentang Jepang pada saat itu seperti ingin saya muntahkan.

Sayangnya ketika saya sekolah, film-film tentang matematika, biologi, fisika dan kimia gak ada atau mungkin saya tidak menemukannya. Lucunya setelah saya mau pindah ke Jakarta sehabis ujian SMA, saya nonton film tentang Marie Curie di TNT Network. Jadi nilai-nilai saya di pelajaran-pelajaran tersebut yaaaaaahhhhh gitu deeeeeeehhhhh…memalukan abis. Coba kalau saya SMA sekarang mungkin saya jadi sangat tertarik dengan pelajaran-pelajaran tersebut karena banyak sekali film dan serial yang didasari oleh matematikan seperti Beautiful Mind dan Numb3rs, lalu fisika seperti film tentang Albert Einstein yang baru saja saya tonton tapi lupa judulnya , Biologi seperti Jurassic Park dan Heroes dan juga CSI dan Bones yang didasari oleh matematika, biologi, fisika dan kimia. Dan mungkin saja saya sekarang gak jadi broadcaster tapi jadi anggota CSI…..hahahahahahahahaha…………..Jadi gak selamanya nonton film dan TV itu buruk kan????

Sebuah Jawaban Dari Semesta

Desember 29th, 2009

Seperti yang pernah aku posting sebelumnya, aku lagi mencoba hidup dengan nilai-nilai yang postif dan menyebarkan ke-positif-an ke sekeliling aku.  Dalam posting sebelumnya aku juga bercerita tentang masalah yang terjadi di kantor sehingga membuat aku menjadi emosional.  Dalam masalah tersebut aku mencoba untuk mempraktekan Hukum Tarik Menari atau Law Of Attraction.  Aku berusaha berpikiran positif tentang masalah ini agar aku mendapatkan feedback yang positif juga.

Ternyata apa yang sudah aku lakukan walaupun gak maksimal ada balasannya.  Kemarin aku ditelpon seorang temanku, dia menceritakan masalahku kepada boss - di divisi - yang - sama - namun -  beda - departemen denganku.  Boss - di divisi - yang - sama - namun -  beda - departemen itu membelaku dan menawarkan aku pindah dari departemenku yang sekarang ke departemen dia.  Belum lagi ternyata dukungan teman-teman sekantor juga memberikan harapan bahwa aku masih bisa melakukan yang terbaik bagi perusahaan.

Dari masalah ini aku mepunyai tiga hal yang harus aku ingat yaitu : aku gak mau membalas dendam kepada bossku itu tetapi aku ingin menjadikan semua ini sebagai pelajaran bahwa aku bukan dia, dia adalah membuat aku kuat dan aku ingin bijaksana dalam memandang semua masalah. Dan semesta ternyata memenuhi permintaan positifku, itu juga bukan tanpa usaha, jika dari dulu aku gak berusaha, bekerja keras, gak pernah mengeluh ke boss atau cengen ketika ada masalah feedback positif seperti ini tidak akan pernah aku dapatkan.

    Kepakan sayap mengejar si Burung Biru
    Sekelumit tentang yang iri dengan si Burung Biru
    Dari kecil aku suka dengan huruf, tulisan dan membaca, meskipun aku belum bisa baca aku selalu membawa koran dan pura-pura membacanya. Selain itu aku punya "kelainan", suka ngomong sendiri seakan-akan dalam ruangan ada beberapa anak padahal cuma aku sendiri, jadi bisa disimpulkan daya khayalku terlalu tinggi. Itu waktu aku kecil lho... Begitu aku sudah kenal yang namanya pelajaran Bahasa Indonesia, aku jadi pengen jadi wartawan. Lebih khususnya lagi wartawan perang. Tapi cita-cita muliaku dihancurkan oleh senior di Kampus UGM dengan menayangkan kompilasi jurnalis-jurnalis perang yang meninggal di Bosnia. Tapi tetap saja aku gak bisa jauh-jauh dari dunia televisi, so sekarang saya kerja di TV Swasta. Sejak tahun 2000-an aku punya impian pengen nulis. Tapi sejak 9 tahun yang lalu karyaku baru 2 yang dipublikasikan....parah yah!!!! Namun aku percaya pada sebuah quote "Jika kamu terbangun dari tidur yang pertama kali kamu pikirkan menulis dan menulis maka kamu adalah seorang penulis". Oia, sekarang aku lagi iri berat sama penulis-penulis yang sudah bisa mempublikasikan karyanya. Pengen banget aku bisa mempublikasikan karya-karyaku dalam bentuk buku. Makanya aku bikin blog ini (selain juga pengen ikutan lomba di blog detik), mungkin dengan begini apa yang aku tulis bisa langsung dapat feedback dari pembaca, jadi tanpa aku sadari aku juga belajar dari pembaca. Jadi bisa semangat nulis tetap terjaga. thx yah.
    http://inspiringwoman.blogdetik.com/files/2010/04/338x200.gif